Ilmu dari perjalanan - Istiqlal

Ilmu dari Perjalanan yang Sering Kali tak Terduga

Mungkin memang benar, kalau kita banyak melakukan perjalanan, bersafari, akan menghadirkan banyak pengalaman baru kepada kita. Sehingga perintah melakukan perjalanan ini ada dala Al Quran, agar kita bisa melihat dunia luar, tempat – tempat dari kaum terdahulu yang dihancurkan, yang kita bisa mengambil ibrahnya.

Kali ini saya mau bercerita sedikit tentang ilmu dari perjalanan yang baru saja saya tempuh beberapa waktu lalu. Saat saya menghadiri Workshop yang diadakan oleh Dewaweb.

Ilmu dari perjalanan pertama yang saya dapat adalah tentang menjaga sholat. Saya berangkat menggunakan kereta api berangkat dari Solo, alhamdulillah perjalanan lancar terus, sekitar jam 5 sore kereta sudah melewati Yogyakarta.

Sampai di Wates, Kulonprogo, adzan maghrib berkumandang, saat itu saya berpikir kalau untuk keluar dari kereta dan sholat di mushola stasiun adalah hal yang tidak mungkin, bisa – bisa saya tertinggal. Untuk bertayamum saja di kereta, saya tidak yakin. Jadilah saya pada sebuah kesimpulan untuk menjamak saja nanti malam ketika sudah sampai di Stasiun Senen.

Tapi di sini rupanya saya mendapat ilmu dari perjalanan ini, di samping saya ada seorang bapak yang tadinya pergi dari kursinya, tiba – tiba datang lagi dengan kaki yang terlihat basah, lalu membuka koran di bawah kakinya sebagai alas, kemudian bertakbir.

Selesai beliau sholat, saya langsung bertanya dari mana dia menggambil air wudhu? Jawabannya menjadikan saya tersadar kalau untuk sholat di kereta itu doable banget. Air wudhu bisa di dapat dari keran yang ada di toilet, kenapa harus tayamum? Bukankah tayamum itu saat air sama sekali tidak ada atau kita tidak bisa bersentuhan dengan air?

Ilmu dari perjalanan - sholat di kereta

Ilmu dari perjalanan kedua, stasiun adalah tempat yang relatif aman untuk sekedar beristirahat dan mengulur waktu. Saya tiba di Jakarta pukul 1 malam, tidak ada teman yang saya kontak sebelumnya, tidak ada plan mau kemana pagi – pagi buta seperti itu.

Saya putuskan untuk sekedar melepas lelah dan menunggu fajar di stasiun itu saja, karena ada juga beberapa orang yang tiduran di peron dekat mushola ditemani seekor nyamuk yang temennya banyak banget :mrgreen: Ada juga mbak – mbak berjilbab besar yang tiba dari kereta asal malang, habis muncak kali ya.

Sembari menunggu saya coba menghubungi sodara tua saya yang selama ini hanya kontak via online, berharap dia available dan bisa mengatur pertemuan, sayangnya dia malah di luar Jawa. Darinya saya dapat beberapa advise agar lebih hati – hati saja di ibukota, jangan berkeliaran kalau malam, bahaya.

Demi alasan itu saya putuskan stay di stasiun adalah pilihan terbaik saat itu. Sebelum akhirnya jam 4 pagi saya putuskan keluar dan menuju Istiqlal dengan jalan kaki sendirian, alhamdulillah aman sampai tujuan 😀

Ilmu dari perjalanan - Istiqlal

Setelah pagi itu, ada beberapa pengetahuan baru yang menurut saya yang anak desa ini merasa good to know. Baru tahu ternyata stasiun gambir itu ternyata antara Istiqlal dan Monas 😛 Baru tahu kalau pakai busway sekarang harus makai duit online (BCA Flazz) :mrgreen:

Yang paling ga enak itu saat di busway ada seorang ibu dari Papua kalau ga salah, bersama ibunya. Ga tau kenapa, eh marah – marah dan mengeluarkan sumpah serapah sendiri, merasa dipermainkan dengan jalur busway mungkin, dimana dia selalu kebablasan.

Setelah workshop, giliran saya bingung mau ke tempat teman di Kalideres naik apa, hampir jam 9 malam saat itu, tapi halte busway yang saya cari belum kelihatan juga. Akhirnya memberanikan diri untuk naik go-jek. Lucu ya, mau naik ojek malah ditanya ada aplikasinya ga 😀

Yaelah, terpaksa install dan daftar dulu deh, dibimbing sama mas ojeknya, begitu selesai order, malah orang lain yang ambil, dan saya musti nunggu lama. Soalnya ada miscommunication antara saya dan ojeknya, saya ga paham pas ditanya – tanya persisnya keberadaan saya. Saya ada di bawah jembatan penyeberangan kantor pos Mampang, dia nunggunya dibawah jembatan layang dekat pom bensin di utaranya :v

Masih banyak lagi sih sebenarnya yang bisa saya tulis di sini, banyak ilmu di perjalanan yang menunggu kita, tapi saya takutnya ini artikel gak jelas makin panjang dan kamu pusing nanti kalau baca, kalau ga baca sih nggak apa – apa 😀

Saya sudahi dulu deh, makasih buat teman – teman yang ada buatku saat kemaren aku butuh kalian ya 🙂 Makasih udah diajak ke Kota Tua malam itu. To my little brother juga yang sudah nganter sampai stasiun Purwosari.