Mengapa Kita Mengantuk Saat Kutbah Jumat Disampaikan Khotib?

Sering mengantuk saat kutbah Jumat? Sama saya juga sering. Dan kalau melihat kebanyakan orang yang menurunkan tempurung kepalanya LEBIH RENDAH dari pundak mereka, saya yakin banyak diantara kita yang juga mengantuk, banyak yang tidak memperhatikan khotib ngoceh berlama – lama di atas mimbar.

Saya sebenarnya sudah menyadari hal ini, saya merasa cemas juga dengan keadaan mayoritas kita yang sama sekali tidak memperhatikan khutbah Jum’at yang sedang disampaikan khotib itu. Bahkan saya sudah mengadakan pengamatan saat kutbah dimulai dan sampai pada beberapa kesimpulan. Tapi saya selalu menyimpannya saja dalam benak, karena ayat ini;

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? — Al Baqarah:44

Maka tidaklah kamu berpikir?, menyuruh orang lain (berbicara tentang sesuatu) padahal saya tidak mempunyai pengalaman di dalamnya sebelumnya. Saya tidak mau menulis banyak hal tentang kutbah ini, sedangkan saya sendiri belum pernah sekalipun menjadi khotib!

Mengantuk Saat Kutbah Jumat

Tapi, dengan bismillah, saya beranikan diri untuk menulis ini sekarang, semoga bermanfaat.

Mengapa Kita Mengantuk Saat Kutbah Jumat Disampaikan Khotib?

Banyak faktor yang menyebabkan kita mengantuk saat kutbah Jumat disampaikan imam, dan berdasarkan pengamatan saya ini bukan kesalahan satu pihak saja, tapi memang kebanyakan karena kesalahan khotib dari yag saya lihat, beberapa kekurangan yang terdapat dalam khotib tersebut di antaranya;

1. Kurang persiapan

Banyak khotib yang menyampaikan materi dari buku khutbah yang mereka beli beberapa tahun lalu, dengan isi yang kadang tidak relevan dengan perkembangan sekarang. Materi yang mereka sampaikan tidak dikaji sebelumnya, dan kadang hanya terkesan membacakan isi buku itu saja. Saya sering menjumpai hal ini di kampung saya, tapi tidak jarang di tempat lain juga demikian.

Khutbah saya hari ini membahas tentang perjudian dan khamer, dengan menyebut SDSB, salah satu program yang malah menjurus pada lotre nasional yang sudah dihentikan tahun 1993. Yang berarti 20 TAHUN yang lalu, tapi masih jadi contoh hari ini.  *geleng*

2. Kurang paham materi

Ini adalah salah satu efek dari faktor nomor satu. Karena kurang paham materi dan ‘membaca buku’ tanpa pemahaman terlebih dulu tentang materi, kadang para khotib terkesan seperti meloncat – loncat saja.

Menyampaikan ayat ini lalu menyampaikan ayat yang lainnya, tanpa ada penekanan dari materi yang disampaikan. Dari sini, saya sendiri merasakan kehambaran dari materi yang disampaikan, dan mulailah kita tidak memperhatikan dan lari pada rasa ngantuk tadi.

3. Terlalu lebar pembahasannya

Mirip dengan poin sebelumnya, pembahasan yang terlalu lebar, dengan pemahaman materi yang tanpa persiapan, coba kita renungkan, apa yang akan tersampaikan, nothing.

Belajar dari pengalaman ngeblog beberapa tahun ini, satu tahun ke belakang khususnya, saya berusaha fokus tentang satu hal sebelum menulis sebuah artikel. Hasilnya bisa dibilang sangat lebih baik, karena saya tahu pasti, mau berada di page one google dengan keyword apa tulisan saya, mau menarik pembaca dengan topik apa tulisan saya nantinya.

Saya jadi berpikir, bagaimana kalau dalam kutbahnya khotib memperdalam dalam satu topik yang sangat spesifik, membahas satu ayat saja kalau perlu? Yang penting jelas tujuannya, jelas arahnya.

4. Khotib tidak berusaha ‘hidup’

Saya lebih sering melihat khotib yang membacakan kutbah dengan seoalh menganggap jamaahnya adalah botol – botol kosong di depannya. Memang dalam trik berpidato, saya pernah juga menggunakan hal ini untuk mengatur diri saya agar tidak nervous bin grogi. Dan memang berhasil.

Tapi, dulu pernah juga saya mendapati guru agama saya saat berkutbah dengan berapi – api, dengan penuh semangat dan menjaga jamaah untuk memperhatikannya. Baik dengan nada bahasa yang dia rubah – rubah penekannya atau dengan melihat ke wajah para jamaah yang sudah dari awal memperhatikan.

Sebagai blogger, saya sering berusaha mencuri perhatian pembaca dari tulisan saya, dengan menggunakan bahasa yang mudah dipahami, atau dengan menyampaikan informasi produk yang berusaha saya ‘jual’ dengan lengkap.

Saya merasa khotib juga harus memiliki pengetahuan tentang seni mencuri perhatian jamaahnya, tentang bagaimana membuat sosok mereka lebih ‘hidup’. Dengan membuat tanya jawab mungkin? *Boleh apa tidak sih khotib bertanya pada jamaah?*

Kesalahan Jamaah

Kita sebagai jamaah kadang saya rasa juga sering melakukan kesalahan dalam hal ini. Karena sering mengantuk ini, kita tanpa sadar sudah sangat terbiasa dengan kebiasaan untuk menidurkan diri, tanpa berusaha mendengarkan materi yang sudah susah – susah dibawakan khotib dengan keringat yang bercucuran.

Mulai dari sekarang, mari kita mencoba untuk membangun kesadaran untuk selalu tersadar saat khotbah disampaikan, berusaha untuk mendengarkan apa yang disampaikan khotib, berusaha untuk selalu terjaga.

Memang sih waktu sholat dhuhur adalah saat yang sangat menggoda untuk tidur sejenak, sudah keadaan panas, capek dan penat dari kerja juga suara khotib jadi terdengar seperti ocehan atau bahkan lagu nina bobok. Les, lelap deh.

Ini juga mungkin alasan kenapa mandi disunnahkan sebelum Sholat Jumat.

Saya bukan Khotib, saya takut dengan tulisan ini

Sekali lagi, saya belum pernah sekalipun menjadi khotib, dan saya merasa lancang menulis ini. Saya sadari itu.

Saya juga takut termasuk dalam orang yang tidak berpikir seperti ayat di atas. Tapi unek – unek ini sudah tidak bisa ditahan lagi.

Ayat itu adalah ayat yang selalu teringat di benak saya, menjadikan saya diam lebih banyak dan introspeksi diri sebelum menyampaikan sesuatu, karena saya takut salah.

Semoga ini bisa bermanfaat dan jadi perenungan bersama. Semoga dari sini kita bisa menghentikan kebiasaan mengantuk saat kutbah Jumat. Atau bahkan ada kesadaran bersama dalam umat Islam untuk tidak Mengantuk Saat Kutbah Jumat, Amin.

Credit Gambar: 6 Aturan Bagi yang Baru Datang Saat Khutbah Jum’at Sudah Dimulai

8 pemikiran pada “Mengapa Kita Mengantuk Saat Kutbah Jumat Disampaikan Khotib?

  1. wakakak…nyindir nich….

    waktu masih sekolah dulu kang, kadang suka usil sama temen-temen. kenapa khotib khutbahnya nggak pake diskusi dua arah yah? coba kalo diganti diskusi model khutbahnya. pasti dijamin nggak ngantu…hehe…ngawur ya kang??

    salam…

  2. alasan khatib tidak relevan ada benarnya. Tapi namanya mimbar jumat untuk mengingatkan dan bukan untuk pemberian ilmu baru, setidaknya khatib bisa memasukkan unsur relevansi kejadian sekarang dengan hadits2 agama. Kadang malah kebanyakan mengulas hadits tapi tidak diimbangi relevansinya.

    • Owh, jadi kalau kutbah jumat lebih kepada mengingatkan ya, lupa, hehe…

      Kalau begitu dibikin ringkas dan fokus saja, dengan gaya bahasa yang ringan dan menarik. Konsep membawa materi yang hanya berupa satu ayat misalnya, justru tepat untuk kondidi ini ya.

  3. Hahahahaha… saya punya cerita tentang topik ini mas dan saya pun sering mengalaminya selama saya di Makassar. Gini loh mas, hampir semua khotib yang ada di Makassar kalau udah bawakan khutbah jum’at, mulai dari awal sampai akhir lebih banyak menggunakan bahasa Makassar yang notabenenya aku belum ngarti sama sekali palingan yg saya tahu cuman beberapa kata saja. Hal itulah yang sering membuat saya mengantuk kalau udah dengar khutbah jum’at.

    • Beda banget ya mas bahasanya, kalau di kampus masak juga makai bahasa lokal sih? Kalau saya sih ngalami kutbah dengan bahasa Jawa biasanya kalau lagi dirumah atau kampung pada umumnya, kalau di kota kebanyakan bahasa Indonesia.

Tinggalkan komentar