Yang kita harapkan belum tentu yang terbaik untuk kita, yang kita benci bisa jadi yang terbaik bagi kita.

Kadang, yang Kita Harapkan dan Rencanakan tidak Kesampaian, Walau itu Wajar

Pernah memiliki sebuah harapan dan angan – angan yang kamu yakin akan sangat menyenangkan jika kamu capai? Tapi nyatanya gagal terus untuk mewujudkannya?

Bahkan hal itu bsia dibilang sesuatu perubahan yang sederhana dan ‘wajarnya’ akan tercapai dengan perubahan/upaya yang kamu lakukan. Tapi tetap pgagal juga 🙁

Saya juga pernah. Salah satunya tentang apa yang terjadi dengan saya di kerjaan offline yang akan saya ceritakan di bawah.

Saya bekerja di sebuah sekolah menengah kejuruan, sebagai teknisi di jurusan Teknik Listrik pada tahun ajaran lalu. Saat pergantian tahun ajaran baru, sekolah membutuhkan seorang teknisi pengganti di Teknik Komputer dan Jaringan. Saya mendapatkan tawaran itu dan menerimanya, karena saya merasa memiliki pengetahuan dasar tentang jaringan, dan saya memiliki minat dan kesempatan berkembang lebih besar di jurusan tersebut.

Selain pengembangan diri, saya juga sedikit banyak membayangkan aktifitas ngeblog saya yang pastinya akan lebih lancar di jurusan yang baru. Saya tidak akan memiliki kendala apa pun karena akses internet bukan masalah sama sekali bagi saya. Bayangan tentang ngeblog yang makin rajin, dengan penghasilan yang makin besar dari AdSense atau juga berbagai affiliasi di blog – blog saya sempat juga terlintas. Saya anggap itu sangat mungkin dan wajar.

Tapi ternyata hal yang tidak wajar terjadi. Bahkan mendominasi!

Secara kemampuan teknis dan pengetahuan jaringan memang saya ada banyak perkembangan, mulai paham RouterOS, belajar infrastruktur server yang mirip cloud hosting yang bernama Proxmox, memasang jaringan nirkabel puluhan km, mengelola moodle, sampai yang terakhir ikut serta mensukseskan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNCBT).

Banyak hal baru saya pelajari, banyak waktu yang tanpa terasa dihabiskan di depan komputer, kadang tanpa memperhatikan waktu 😛

Dari asiknya belajar dan explorasi hal – hal baru ini menjadikan blog saya mulai jarang saya singgahi, apalagi update dengan tulisan terbaru yang makin informatif.

Sebuah paradoks, saat tak ada halangan sama sekali bagi saya untuk terhubung ke internet dengan kecepatan yang bisa saya kendalikan semau saya nyatanya saya tidak ada kesempatan untuk mengelola blog saya. Kalau pun masuk dashboard blog, sama sekali tidak ada ide buat menulis.

Yang awalnya saya anggap mudah, saya anggap peningkatan di blog saya adalah lumrah dan wajar, jadi impossible.

Kutukan dalam kemudahan koneksi

Di balik mudahnya akses, ternyata ngeblog saya malah tidak meningkat. Mudahnya akses membuat saya malas berfikir kreatif, kalau sudah capek mempelajari hal baru, seringnya membuka social media hingga lupa waktu. Kalau tidak ya membuang – buang waktu dengan menonton film yang jumlahnya terlalu banyak untuk saya tulis di sini.

Saya perlu lebih serius me-manage waktu saya. Lebih bijak dalam memilih aktifitas yang produktif, untuk offline atau juga online.

Akses yang melimpah ini saya rasakan juga berdampak kurang baik pada siswa – siswa tempat saya bekerja. Alih – alih mereka menggunakan fasilitas yang ada untuk meningkatkan kemampuan dan kompetensi dengan mencari materi baru, baik tutorial, video panduan di YouTube atau ikut kursus online. Para siswa online paling lama justru untuk mengakses Facebook atau download film 🙁

Agak maklum juga sih kalau dipikir, that’s all they know about how to use internet. Itulah hal yang paling mereka tahu tentang berinternet. Di SMP atau SD mungkin guru TIK memberikan contoh berinternet adalah dengan membuat akun Facebook ini.

Saya yang sudah bisa memanfaatkan internet dengan lebih efisien bahkan menghasilkan rupiah dan $ saja bisa terlena, apalagi mereka yang masih perlu diberi tahu lebih banyak manfaat internet di luar social media.

Apa yang kita sukai belum tentu yang terbaik buat kita

Semoga ada pelajar yang membaca beberapa bait kata di atas dan mulai menyadari pentingnya waktu. Saya sudah mulai capek juga mengetik tulisan ini, sudah lama tidak menulis, buat pemanasan boleh lah curhat di blog ini, seperti saat saya mengawalinya 5 tahun lalu 🙂

Saya jadi teringat Al Baqarah 216, apa yang kita sukai belum tentu baik, dan begitu juga sebaliknya. Tetap waspada.

Yang kita harapkan belum tentu yang terbaik untuk kita, yang kita benci bisa jadi yang terbaik bagi kita.image credit; http://standupgeneration.net/home/?p=519

4 pemikiran pada “Kadang, yang Kita Harapkan dan Rencanakan tidak Kesampaian, Walau itu Wajar

  1. terkadang apa yang kita suka bisa jadi tidak bermanfaat untuk kita ya mas….tapi artikel ini insya allah bermanfaat untuk yang baca…aamiin

    salam kenal

  2. Saya sampai bingung mau komentar apa, karena mirip dengan yang saya alami, ketika memiliki koneksi internet yang turah malah blog jarang dijamah. tapi saat tak punya koneksi, ide posting bersliweran di kepala, tapi saya siasati dengan posting liwat warnet mas he he

Komentar ditutup.