Perubahan Mindset Sebelum Menikah

Mindset sebelum menikah sewaktu single dan dalam masa pencarian kita pasti selalu berpikir akan begitu sempurnanya pasangan kita kelak. Kita pasti ingin semua checklist dari prasyarat wanita idaman tercontreng oleh sosok yang menjadi pendamping hidup kita.

Mindset Sebelum Menikah

Faktanya, bisa jadi jauh dari itu semua, atau bahkan berkebalikan dengan semua itu. Itulah satu hal yang benar adanya saya rasakan sebelum melangsungkan pernikahan bulan lalu. Untuk settle dan melabuhkan hati kepada seseorang, apa yang perlu saya lakukan justru sebaliknya.

Sepanjang pencarian saya, saya sudah sedikit demi sedikit membuang idealisme, mulai dari wajah cantik calon, bentuk badan gemuk yang saya tidak suka, keluarga yang sederhana, dan lain-lain.

Pernah dalam satu kajian, ustadz berpesan untuk menjadikan pencarian pasangan kita hendaknya mengemban satu misi penyelamatan, hendaknya kita niatkan diri untuk bersedekah kepada calon pasangan kita. Kalau kita tampan tak mengapa calon berparas standar (atau di bawah), calon istri berusia lebih tua juga tak mengapa, keluarganya lebih tidak beruntung dari kita dari sisi ekonomi juga tak mengapa. Perjaka dengan janda juga tak mengapa, sebagaimana ustadz ini dulunya.

Saat itu, saya menyimak sambil tersenyum-senyum, sembari membatin bahwa semua sudah saya coba lakukan. Saat itu saya baru saja gagal berproses dengan seorang akhwat yang terbilang relatif tua, walau masih tua saya 2 tahun, badannya terbilang ‘berat’ saya tak jadikan permasalahan.

Saya sudah menyelisihi nafsu saya, dengan membuang cara pikir kebanyakan pria, mencari wanita dari kesempurnaannya. Saya berusaha fokus ke sisi positif yang jadi prinsip saja, selebihnya kalau ada sisi negatif yang kita temui nanti, anggap saja kejutan dalam berumah tangga.

Saya yakin semua pasangan mengalami ‘kejutan’ ini, banyak yang sudah cerita. Dan memang, tiada insan yang sempurna kan?

Revolusi Mindset Sebelum Menikah

Ternyata saya salah.

Merubah mindset seperti yang saya sebut di atas masih kurang. Satu hal yang saya sering lakukan beberapa bulan yang lalu adalah menyimak akun-akun Instagram tentang pernikahan, salah satunya @nikahedukasi yang banyak memberikan video singkat yang sesekali menampar-nampar saya.

Ya, satu video itu salah satunya yang menonjok, bahwa jangan terlalu PD untuk merasa berhak menentukan pilihan, milah-milih. Kalau sudah ada yang sinyalnya mau, dan dia sholehah, memiliki kriteria pondasi yang kita mau, kenapa tidak?

Saya tertampar, karena setelah sekian kali jatuh bangun, kesekian kalinya, sampai layak dibuat sebuah novel mungkin, saya sebelumnya masih saja milah-milih juga.

Itulah revolusi cara berpikir pertama yang mengawali semua prosesnya. Hingga seluruh proses dari kenal sampai menikah saya lalui kurang dari 2 bulan.

Untuk cerita lengkapnya mungkin bisa disambung di posting berikutnya ya 😀

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *