Review OpenSUSE Leap 15.2 & Tumbleweed Setelah Memakai Hampir 4 Bulan

by

Saya sudah 2 tahun ini distrohopping, gonta-ganti distro linux untuk pemakaian harian, semakin dibuat nyaman saja dengan platform open sistem operasi terbuka ini. Dulu mulai dari Linux Mint, Zorin, Elementary OS, Ubuntu.

Hingga yang terakhir tempo hari saya pakai openSUSE dari 1 September 2020 hingga kemarin. Jadi silahkan simak Review OpenSUSE yang saya tulis berikut.

Iya sampai kemarin, karena untuk saat ini saya sudang mencoba menjajaki Ubuntu Budgie. Mencoba DE budgie dalam rilis openSUSE, menjadikan saya penasaran untuk Ubuntu rasa budgie.

Opensuse Review Install Kdenlive openSUSE Budgie
Opensuse Review – Install Kdenlive openSUSE Budgie

Kemarin sudah merasa nyaman kemarin-kemarin memakai openSUSE, sampai lupa good things yang dia tawarkan untuk menuliskannya. Maka ketika saya kembali ke Ubuntu saya jadi ingat poin plus-plus yang diusung openSUSE, karena saya harus melakukan tuning di Ubuntu Budgie.

Oke langsung saja saya ceritakan bagaimana pengalaman dan trik saya menggunakan openSUSE ya.

Jangan Install OpenSUSE

Nah kok malah nggak boleh install openSUSE? Maksud saya jangan install openSUSE as is, sebagaimana versi openSUSE yang ada di website resminya. Kenapa? Karena bakalan susah.

Yang pertama selain tidak ada live image untuk mencoba, jadi dipaksa langsung install, lantas yang kedua setelah install langsung ada PR buat install berbagai package terkait dengan codec multimedia, dan juga font rendering yang biasa saja.

Trik saya adalah saya memilih GeckoLinux, sama-sama bermaskot bunglon, namun Gecko Linux adalah versi openSUSE yang sudah dipoleh biar lebih user friendly, tampil lebih menarik juga karena perbaikan font rendering.

Kalau begitu nggak jadi pakai openSUSE dong? Masih tetep, bahkan Gecko Linux sama sekali tidak meninggalkan branding/jejak apapun yang menunjukkan kalau yang diinstall adalah Gecko, alih-alih dia tetap menjaga identitas openSUSE, dan isinya memang openSUSE juga.

Review OpenSUSE : Good Things

Oke sepertinya itu saja triknya, selanjutnya saya sampaikan the good things pada review openSUSE kali ini ya.

Pertama, Paling Banyak Cara Install Program

Kebanyakan distro linux kalau tidak memakai repositori (via terminal atau app center), download langsung file binary (.deb atau .rpm) paling ya dari source code langsung bagi yang experienced user.

OpenSUSE menawarkan satu lagi namanya yaitu menggunakan file .ymp di samping .rpm. Merupakan satu file yang bisa di download dari website OpenSUSE Software file ini bisa berfungsi layaknya torrent. Ketika di double klik akan membuka Yast Package Manager, menambahkan repositori baru jika diperlukan lalu men-download package inti software.

Install Pattern

Saat pertama kali mendengar istilah ini saya agak kurang paham juga, baru sepekan belakangan saya mencoba eksplorasi. Pattern adalah sekelompok aplikasi, dalam satu pattern kita bisa menginstall beberapa package tertentu sekaligus yang bersama-sama memiliki fungsi tertentu.

Semisal kita bisa install desktop environment KDE Plasma di sistem kita yang sebelumnya pakai MATE Desktop. Atau mengintall pattern LAMP Stack, satu kali centang mulai dari PHP, MySQL, dan Apache akan sekaligus terinstall beserta dependencies lain yang diperlukan oleh aplikasi-aplikasi tersebut.

Install Multiple DE

Seperti yang saya tulis di atas, dengan adanya pattern memungkinkan saya yang cuma regular Joe bisa install beberapa Desktop Environment sekaligus. Semisal kita ingin mencoba rasanya KDE terbaru, atau Pantheon biar terlihat seperti MacOS juga bisa. Thanks berkat adanya Yast Package manager.

Dukungan Komunitas yang Besar

Dengan SUSE Enterprise Linux yang berada di balik openSUSE, otomatis menjadikan sistem operasi ini sangat stable, karena SEL adalah linux berbayar yang ditujukan untuk big corporation, untuk diinstall pada infrastruktur komputer mainframe seperti di dunia perbankan.

Kalau Fedora adalah versi open dan development intended dari RHEL, di SUSE ya kita temui openSUSE ini. Dengan backingan perusahaan besar seperti ini maka kelengkapan software yang ada di repositori juga tidak perlu diragukan lagi.

Thanks to Gecko Linux Seamless Transition

Berkat menggunakan Gecko Linux sebagai starter saya menggunakan openSUSE, saya merasakan kemudahan-kemaudahan seperti yang saya singgung di atas. Memang bisa mencoba live session dulu adalah wajib kalau mau melihat dulu, sayangnya openSUSE tidak menghadirkan fitur ini.

Lantas tampilan font yang sudah keren dari setelah install, baru saaya rasakan setelah pakai Ubuntu Budgie harus install Font Manager dulu agar tampilan font terlihat halus. Ditambah tidak perlunya install gsreamer plugin yang ‘terlarang’ secara manual sehingga mp3 dan mp4 langsung bisa dimainkan.

Closing openSUSE Review : Kenapa Ganti Distro Lagi?

Menutup review openSUSE kali ini, mungkin kamu penasaran kalau memang sebagus itu openSUSE kenapa pindah distro?

Minus yang saya bisa sampaikan di openSUSE review kali ini cuma dua sebenarnya. Saat menggunakan Google Chrome dengan 2 akun bersamaan maka keduanya tidak bisa di-maximize. Melakukan hal tersebut akan membuat browser window tampak frozen, walau sebenarya halamannya loading dengan penuh sekalipun.

Yang kedua, saat browsing, klik kanan pada satu file (gambar misalnya). Setelah pilih save as nanti setelah menentukan folder tujuan tidak ada kolom untuk nama file dan klik save. Saya rasa ini terjadi setelah saya memakai openSUSE Leap, 3 bulan lebih pakai Tumbleweeb nggak ada masalah ini.

Makanya setelah mencoba install beberapa DE sekaligus dan sama saja, maka saya putuskan untuk mencoba distro dengan DE Budgei. Tapi tidak sekalian memakai Solus sih, masih kurang pengalaman dengan distro itu.

Terima kasih telah menyimak openSUSE review dari saya, semoga bermanfaat.

Tinggalkan komentar