Ubuntu Studio, Distro Ternyaman Penguna Linux Pemula

by

Yap, saya makin jarang ngeblog beberapa waktu lalu, dan beberapa hari terakhir saya ingin aktif lagi menulis di blog. Makannya saya membuat bebrapa posting ringan untuk memancing semangat menulis di blog lagi.

Kali ini saya akan membahas tentang beberapa Distro Linux yang telah saya coba, saya coba memberikan perbandingan singkat yang mungkin bisa jadi referensi bagi anda yang juga ingin mencoba pakai linux. Langsung saja masuk ke distro yang paling lama saya gunakan;

1. Fedora Core 17

Berbulan – bulan saya sudah menggunkan Fedora Core 17 setelah bebrapa dulu sempat mencoba Fedora Design Suite. Saya lebih senang menggunakan Fedora karena bisa dibilang ia merupakan distro linux dengan aktifitas yang tingi, hampir selalu ada update terbaru tiap hari kalau kita mau memeriksa.

Selain itu, Fedora relatif ringan, Desktop Environment gnome yang paling sering saya gunakan juga lebih simple dan powerful dari Unity atau KDE. Karena menggunakan gnome, Fedora Desktop ini juga paling lengkap aplikasi pendukungnya.

Yang lebih memudahkan adalah penggunaan yum untuk instalasi aplikasinya. Walau yum dieksekusi lewat terminal, nyatanya menjadikan saya belajar lebih cepat, karena kalau ingin mencari aplikasi untuk melakukan ini tingal ketik ‘sudo yum search ingin apa‘, maka semua program yang berkaitan akan muncul namanya. Itu yang membuat saya paling cinta Fedora.

Namun keunggulan ini pada akhirnya juga menjadikan saya bosan. Karena siklus update yang terlalu dekat, walaupun bisa saja saya tidak menghiraukan update hingga release baru muncul, namun nyatanya saya tidak bisa menahan diri untuk tidak mengupdate system 😛

Juga tampilan font yang cenderung ‘raw’ dan UI yang terasa kurang keren menurut saya 😛 Tapi kalau mau menginstall gnome tweak tool sebenarnya bisa diatasi dengan bebrapa shel seperti Zukini yang keren juga sih.

2. Ubuntu

Saya dulu juga pernah menggunakan Ubuntu. Secara kelengakapan dan kemudahan instalasi aplikasi Ubuntu adalah Distro paling lengkap, sehinga tak heran kalau Ubuntu jadi distro yang paling terkenal di Indonesia. Namun Tampilan Ubuntu Software Center saya rasa membatasi saya yang bisa terbiasa bereksplorasi dengan yum.

Disamping tampilan Desktop Environment Unity yang tidak efektif dan terasa kurang nyaman. Yang jelas saya kurang bisa menikmati menggunakan Ubuntu, mungkin juga karena loadingnya yang lebih berat.

3. Fedora LXDE dan Xubuntu

Keep asking, keep learning. Rata – rata pengguna Linux memang seperti itu, ga bosen – bosen untuk mengadakan oprek komputernya. Saya pun mulai mencoba Dekstop Environment yang katanya jauh lebih ringan dari gnome, LXDE.

Tapi tidak banyak yang bisa saya ceritakan, menggunakan Fedora LXDE langsung merasa kalau OSnya ‘terlalu minimalis’ atau bahkan ‘prematur’ 😛 Pernah juga menggunakan XUbuntu, kalau live bisa, tapi selalu gagal kalau mau menginstall. LXDE is not good kesimpulannya :mrgreen:

4. Fedora XFCE

Penasran berlanjut, akhirnya giliran Fedora XFCE spin yang saya coba. Awalnya sih agak terlalu tidak suka dengan Desktop Environment XFCE, karena juga terasa terlalu minimalis. Tapi setelah mencoba beberapa pekan terakhir yang lalu saya menilai Fedora XFCE worthy lah buat dicoba.

Tampilan Font yang dibawa lebih terasa bagus dari gnome, lebih ringan juga, tapi masih bisa menggunakan yum juga. UI dari OSnya yang saya rasa kurang bisa dimodifikasi sendiri yang membatasi saya.

5. Ubuntu Studio

Awalnya tidak terlalu tertarik dengan turunan Ubuntu, terlebuh sebelumnya mau install Xubuntu malah gagal. Tapi setelah tahu kalau Ubuntu Studio juga mengunakan XFCE akhirnya jadi pengen nyoba juga.

Ubuntu Studio distro termudah pemulaUbuntu Studio juga merupakan distro yang dilengkapi dengan banyak aplikasi design dan kreatif lainnya. Tidak peduli anda aktif di dunia musik, fotografi, video editing atau web graphic designer, bisa menggunakan banyak aplikasi yang telah dibundling disana.

Instalasi yang mudah juga sangat cocok dengan pemula yang sebelumnya sudah akrab dengan Windows. Juga penambahan software melalui Ubuntu Software Center yang sangat membantu pemula tentunya.

Fitur multimedia juga langsung aktif jika saat menginstall koneksi internet aktif, karena beberapa plugin seperti gstreamer secara langsung didownload juga. Kalau anda ingin migrasi ke OS open source, dan anda aktif didunia kreatif sangat recommend lah pokoknya 🙂

4 pemikiran pada “Ubuntu Studio, Distro Ternyaman Penguna Linux Pemula”

  1. saya sebagai pengguna linux pemula, tapi gag terlalu suka sama ubuntu studio, kebanyakan aplikasi menurut saya kurang berguna. hehehe 😀

    Balas
    • Hehehe… kalo mau system yang lean dan powerful, saya lebih suka fedora sebenarnya. Tapi kalau hobby design ubuntu studio tampilannya dan koleksi aplikasinya lebih OK. 🙂

      Balas
      • ngomong-ngomong ubuntu yang tanpa software ada gag mas? jadi system ubuntu doang dengan DE nya LXDE. Trus cuma ada aplikasi dasar aja, ntar aplikasi lainnya tinggal nambah sendiri.
        ada gag mas?? 😮

        Balas
        • Kalau tanpa software hampa dong 😀 Setahu saya yang menggunakan LXDE ya Lubuntu. Tapi seperti apakah daleman OS turunan Ubuntu yang satu ini saya juga belum mencoba 🙂

Tinggalkan komentar