Hachiko Film Drama yang Mengharukan

Kemarin dapet sms dari Rofi, tanya apa aku sudah pernah lihat film Hachiko? Diingat – ingat kelihatannya pernah dengar film tentang seekor anjing juga, tapi nggak minat lihat dulu. Ditambah Googling dan melihat di Wikipedia saya jadi penasaran untuk melihat film yang satu ini. Dan berikut adalah reviewku;

Mengharukan. Seperti drama yang lainnya, ini adalah kesekian kalinya aku  meneteskan air mata setelah melihat sebuah film. Sebelumnya aku pernah juga menangis waktu melihat beberapa film barat Shawsank Redemption, Magnolia dan Seven Pounds. Terbukti sudah pesan Rofi padaku untuk menyiapkan banyak tisu 😀

Alur cerita Hachiko

Cerita dimulai dengan pelajaran bercerita tentang pahlawan pada ruang kelas dimana cucu Prof. Parker yang memelihara Hachiko berada. Saat dia maju di depan, menuliskan nama Hachiko dan berkata bahwa dia adalah seekor anjing, temannya tersenyum mengejek.

Kemudian diapun mulai bercerita tentang awal kisah pertemuan kakeknya dengan Hachi di stasiun kota. Hachi kecil yang dibawa dari Jepang melepaskan diri dari kandangnya yang terjatuh dari gerobak yang ditarik petugas barang bersama barang lainnya. Alamat tujuan pengiriman pada kandang itu telah tersobek dan hilang sebelumnya. Berjalan kesana – kemari, akhirnya tibalah Hachi didepan kaki Prof. Parker yang baru tiba dari perjalanan.

Prof. Parker membawa Hachi pulang setelah hendak meminta petugas stasiun merawatnya namun dia tak mau. Esoknya semua orang ditawari sekiranya ada yang berminat untuk memelihara anjing, namun tak seorang pun mau. Di kampus, Prof. Parker bertemu dengan temannya Prof. Ken. Dia bercerita tentang arti simbol pada kalung anjing tersebut yang berupa angka 8 dalam alfabet Jepang, atau yang disebut Hachi, lambang keberuntungan. Dari situlah nama Hachi di dapat akhirnya. Prof. Ken berpendapat mereka sudah jodoh, Hachi sudah memilih Prof. Parker sehingga dia lah yang berhak atas Hachi.

Hachi adalah anjing yang agak aneh, dia tidak mau mengambil bola yang dilempar seperti anjing pada umumnya. Sekarang dia telah menjadi anjing yang besar, pada satu hari setelah ditinggal Prof. Parker berangkat bekerja dia menggali lubang di bawah pagar, menerobos keluar dan menyusulnya ke stasiun. Prof. Parker terpaksa kembali ke rumah karena Hachi tidak mau pulang walau sudah disuruh berkali – kali.

Setelahnya Hachi selalu mengantar Prof. Parker berangkat bekerja, lalu pulang dan datang lagi ke stasiun pada sore hari,  beberapa saat sebelum kereta yang membawa Prof. Parker datang. Hal itu berjalan selama bertahun – tahun. Hanya sekali Hachi tidak datang karena jalan keluarnya dari gudang tempat dia berada terhalang binatang lain (apa ya namanya? 🙂 ).

Hari itu Prof. Parker akan berangkar sebagaimana biasanya, Hachi menggonggong dan tidak mau ikut walau sudah diajak, sesuatu yang sangat aneh. Hachi menyusul ke stasiun dengan membawa bola yang sejak dulu tidak pernah dia ambil. Prof. Parker sangat senang, itu adalah kali pertamanya Hachi melakukannya, dia melempar bolanya berkali – kali dan Hachi selalu mengambilnya, dia sangat senang sekali. Hachi menggongong lagi saat Prof. Parker memasuki stasiun, Hachi nampaknya merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi.

Prof. Parker meninggal hari itu di kampus, tersungkur di depan kelas karena serangan jantung. Sore itu Hachi tetap menunggu dibawah pohon di halaman stasiun seperti biasa, hingga malam, sampai menantu Prof. Parker mengajaknya pulang.

Keharuan dimulai disini. Hachi selalu saja menunggu kembalinya Prof. Parker. Saat rumah Prof. Parker dijual dan dia dibawa ke rumah Andy, anak Prof. Parker dia kabur, dan kembali lagi ke stasiun. Jasjeet si penjual hotdog dan Mary Anne pemilik toko buku kaget melihatnya kembali di sana. Dia tetap menunggu, hingga Andy menjemputnya 😥

Ulasan Film Hachiko

Andy membiarkan Hachi pergi lagi ke stasiun setelah melihatnya hendak pergi namun kebingungan karena terhalang teralis besi. Hachi kembali menungu, saat pulang namun rumahnya sudah ditinggali orang lain di kembali ke stasiun dan menemukan rumah barunya di bawah gerbong tua yang tidak beroperasi lagi.

Bertahun – tahun dia selalu menunggu, hujan dan dingin bahkan terpaan salju tak dihiraukannya. Kesetiaannya banyak dibicarakan orang di kereta hingga seorang wartawan menulis ceritanya di koran. Prof. Ken melihat berita tersebut dan mengunjungi Hachi. Bagiku ini merupakan momen yang mengharukan, seperti teman lama, Hachi juga membalas saat diajak bersalaman, 😥

Saat paling mengharukan adalah setelah 10 tahun lamanya, Hachi yang tampak memprihantinkan masih menunggu. Istri Prof. Parker, Cate saat bersama dengan Prof. Ken setelah mengunjungi makam suaminya tak kuasa untuk menghampiri Hachi. Momen yang emosional 😥 Sangat mengharukan, Jasjeet pun menangis saat itu.

Hachiko

Di ujung cerita Hachi pergi ke stasiun pada satu malam. Dia kembali ke tempatnya, menunggu. Memejamkan matanya dan terbayang kembali saat kebersamaannya dengan tuannya. Sosok Prof. Parker nampak muncul dari pintu, Hachi girang, dan menghampirinya.

Cerita Hachiko sebenarnya

Hachiko Statue by Giorgio CopponiHachiko Statue by Giorgio Copponi

Cerita tersebut terjadi di Jepang pada tahun 1923 hingga 1935. Stasiun Shibuya di Tokyo adalah tempat kejadian yang sebenarnya. Saat ini disana dibangun sebuah monumen untuk mengenang kesetiaan Hachi. Itu adalah tempat bertemu yang cukup terkenal di Jepang, mungkin kalau janjian di sana berharap akan terjadi pertemanan yang langeng seperti hubungan Hachi dan tuannya kali ya 😀

2 pemikiran pada “Hachiko Film Drama yang Mengharukan”

    • Cukup seru untuk membuat kita mewek lah, kekuatan terbesar film ini selain pada tokohnya juga terletak pada suara piano yang hadir diakhir cerita.

Tinggalkan komentar