Ternyata Sholat itu Tidak Sekedar Wajib dalam Islam!

Pagi ini saya mengikuti sebuah kajian yang sangat membuka pikiran saya, salah satu kenyataan yang selama ini saya tidak sadar, bahwa dalam Islam sholat itu tidak wajib!

Kenapa sholat itu tidak wajib? Karena sholat memiliki derajad sebagai salah satu rukun dari keislaman seseorang, jadi tanpa sholat seseorang yang mengaku Islam itu sesungguhnya keislamannya hanya sebatas pengakuan sepihak darinya, belum lengkap tanpa pengakuan Allah.

Tambah bingung? Katanya tidak wajib tapi kok tanpanya tak utuh keislaman seseorang?

Oke begini, cerita awal kajian pagi tadi adalah dari survey kecil-kecilan Pak Ustadz selama kurang lebih 18 tahun terakhir, beliau mencari jawaban dari fenomena banyaknya orang yang ngakunya Islam, tapi ternyata tidak mendirikan sholat.

Usut punya usut, salah satu penyebab banyaknya umat Islam yang tidak sholat ini adalah karena selama ini umat Islam salah dalam memahami hukum sholat. Sholat selama ini hanya dihukumi sebagai sebuah ibadah yang WAJIB!

Padahal kalau kita menengok pemahaman fikih paling mendasar, ibadah yang wajib itu berkonsekuensi bila dilaksanakan mendapat pahala dan jika tidak dilaksanakan mendapatkan dosa. Betul?

Sholat Berjamaah - Apakah sholat tidak wajib hukumnya dalam Islam

Dengan pemahaman seperti ini, mereka yang belum mendirikan sholat tenang-tenang saja. Santai saja, tidak sholat dulu sekarang nggak apa-apa, nanti masih ada waktu buat tobat dan memulai sholat kalau sudah tua, sudah sukses dan punya banyak waktu luang. Toh dosa apa saja Allah akan ampuni kan selama itu bukan kesyirikan?

Sholat itu rukun Islam, sebuah ibadah tidak sah jika rukunnya terlewat.

Untuk mempermudah pemahaman dalam pembahasan ini, mari kita ambil contoh pada ibadah-ibadah yang kita lakukan setiap harinya. Ambil contoh naik haji, jika dalam pelaksanaan haji seseorang tidak ikut berdiam diri di padang Arafah, apakah ibadah hajinya sah? Tentu tidak.

Contoh kedua dalam sholat. Kalau seseorang yang melaksanakan sholat dengan sengaja tidak melakukan ruku dalam setiap rakaatnya, apakah sholatnya sah? Jawabannya jelas, tidak sah!

Kalau berwudhu misalnya, jika sengaja tidak membasuh tangan sama sekali, apakah whudhunya sah? Pastinya juga tidak kan?

Nah, dari 3 contoh tersebut tampak jelas bukan bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan dengan serampangan, meninggalkan rukun-rukun yang sudah jelas merupakan bagian dari serangkaian kewajiban dalam satu ibadah akan menjadikan ibadahnya tidak sah!

Begitu juga dengan sholat, yang merupakan satu dari 5 rukun untuk menjadi orang Islam, pastinya rukun ini harus dipenuhi. Tanpa pemenuhannya berarti keislaman seseorang akan batal! Ini jelas sangat jauh berbeda dengan pemahaman yang sebelumnya, bahwa sholat itu (hanya) wajib, dikerjakan berpahala ditinggal menjadikan pelakunya berdosa.

Analogi menggenggam dengan kelima jari.

Jika keislaman diibaratkan adalah sebuah obor yang dengannya hidup kita mendapatkan petunjuk, maka rukun Islam adalah 5 jari yang kita gunakan untuk menggenggam batang obor ini. Mulai dari syahadat sebagai jempolnya, hingga ibadah haji dianalogikan sebagai kelingkingnya.

Jika sebagai orang yang mengaku Islam tapi belum berkesempatan menjalankan haji, karena memang haji adalah bagi yang mampu, maka keislaman seseorang masih tetap diakui, tidak serta menjadikannya keluar dari Islam. Analogi; memegang obor dengan 4 jari sisanya masih mungkin dilakukan.

Pun dengan zakat, tidak semua orang berkewajiban membayar zakat bukan, bahkan ada orang yang harusnya mendapatkan zakat ini, tidak mengeluarkan. Analogi; memegang obor dengan 3 jari sisanya masih dapat dilakukan.

Lantas puasa, puasa wajib bagi sebagian orang seperti ibu hamil dan menyusui hukumnya bukan wajib, bagi yang haid justru haram, maka ada aturan untuk mengganti di hari lain atau membayar fidyah. Analogi; jari ketiga lepas, masih bisa memegang batang obor? Masih.

Tapi kalau untuk sholat, aturan mainnya berbeda. Jika seseorang meninggalkan sholat, itu sama dengan berusaha menggenggam tanpa menggunakan jari telunjuk, hanya menggunakan jempol saja. Kira-kira bisa? Ya pastinya tidak bisa. Maka secara otomatis orang yang ngaku Islam tapi sholatnya seenaknya dia sendiri itu sama saja islamnya main-main, tidak sungguh-sungguh, seperti hendak menggenggam obor dengan jempol saja, mana mungkin bisa.

Sekelumit hujjah.

Oke, saya rasa waktunya mengeluarkan dalil, hehe, kalau Pak Ustadz tadi di kajian sudah agak di pertengahan beliau sampaikan, tapi saya berusaha menuliskannya seakhir mungkin, lebih akhir dari ini maksud saya, tapi sepertinya akan kabur konteksnya.

Dalilnya adalah ada sebuah hadis dan juga ayat Al Quran. Salah satu hadist Mutafaq Alaih (artinya ini sama-sama disetujui ulama hadist atau Bukhari – Muslim begitu ya, tadi kurang fokus saya, CMIIW), dari Abu Hurairah bahwasanya satu ketika Nabi saat berkumpul dengan para sahabat beliau mematahkan sebuah batang pohon, kemudian beliau menggambarkan sebuah garis lurus kemudian bersabda, “Perumpamaan sholat bagi umat muslim adalah seperti garis ini yang memisahkan kalian dengan orang musyrik, orang kafir dan mereka yang meninggalkan sholat (ngakunya Islam – red)”. note 1.

Lalu pada Surat Al Bayinah Ayat 6, Allah berfirman, yang artinya, “Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk”. note 2.

Nah dari keduanya jelas, baik melalui kutipan hadist dan ayat atau dengan analogi di atas jelas bahwa sholat itu bukan hanya wajib hukumnya. Mau tidak mau harus dilaksanakan dan tidak ditinggalkan. Karena meninggalkannya akan secara otomatis menjadikan seseorang keluar dari Islam.

Note 1; Sabda Nabi SAW ini belum saya cek persisnya, yang saya ingat tadi Pak Ustadz bilangnya seperti itu, next bakal saya cari dan sampaikan hadist yang dimaksud.

Note 2; Dalam kajian Pak Ustadz menyampaikan “sesungguhnya orang-orang kafir dari Ahli Kitab, orang musyrik dan mereka yang meninggalkan sholat…”, namun saat menulis ini saya menemukan di musyaf tertulis sebagaimana yang saya sampaikan di sini.

Note 3; mungkin ada kurang dan lebihnya atau sedikit perbedaan dari yang Pak Ustadz sampaikan, saya hanya menuliskan ini dengan berdasar ingatan saya tadi pagi, saat di kajian tidak mencatat.

Walahu ‘alam.

Tinggalkan komentar